Kapolda Bali Kumpulkan Followernya, Meningkatkan Soliditas Organisasi

INDONESIASATU.CO.ID:

DENPASAR- Kapolda Bali Irjen Pol. Dr. Petrus Reinhard Golose memberikan arahan tentang perilaku organisasi (organization behavior) kepada seluruh alumni Akpol termasuk Wakapolda Bali, Brigjen Pol. Drs. I Wayan Sunartha, Pejabat Utama dan Kapolres se-Bali Selasa (16/10)  di Gedung Perkasa Raga Garwita (PRG) Polda Bali. Acara tatap muka yang dimulai 09.00 wita ini juga diikuti perwakilan Perwira Menegah (Pamen), Perwira Pertama ( Pama )dan Brigadir dari seluruh Satuan kerja jajaran Polda Bali.

Irjen Pol. Dr. Petrus Reinhard Golose dalam arahannya menyampaikan, setiap individu memiliki peran sebagai pemimpin (leader) dan sekaligus sebagai bawahan (follower). Untuk menjadi seorang bawahan yang berhasil harus mampu menampilkan pribadi yang bertanggung jawab, yaitu berorientasi pada hasil, selalu meningkatkan kemampuan, berinisiatif, memiliki kompetensi, jujur serta mampu membangun kompetensi dalam kelompok. “Selama ini kita sudah sering belajar bagaimana menjadi seorang pemimpin yang berhasil, namun lupa untuk belajar bagaimana menjadi bawahan yang berhasil.

Keberhasilan pemimpin adalah keberhasilan bawahan juga,” kata jenderal bintang dua di pundak ini. Pada kesempatan itu, Kapolda mengutip pernyataan Donelson R. Forsyth tentang “Theory of Followers” Dalam beberapa teorinya diharapkan bagi seorang bawahan dalam berkarir dapat memahaminya terutama exemply follower dan passive follower sebagai antitesannya Exemply Followers adalah seorang bawahan yang diproyeksikan akan menjadi bintang dan meraih kesuksesan karena memiliki sifat-sifat yang aktif, kritis, fokus pada tujuan, berinisiatif, berani dan berintegritas.

Sedangkan Passive Followers diibaratkan seperti seekor domba dengan memiliki sifat pasif, tidak kritis, tidak memiliki komitmen, tidak bergairah, tidak antusias, tidak berkontribusi dalam kelompok dan bersifat seperti boss yang hanya memantau pekerjaan. “Seorang bawahan bebas memilih dua pilihan tersebut dan tentu dengan segala konsekuensinya,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Kapolda juga menjelaskan tentang dua perspektif kepemimpinan, yaitu kepemimpinan transformasional dan kepemimpinan transaksional. Menurutnya, dua perspektif kepemimpinan ini harus saling melengkapi agar seorang pemimpin berhasil mengelola suatu organisasi atau institusi. Dua gaya kepemimpinan ini pun sudah diterapkan Irjen Pol. Dr. Petrus Reinhard Golose selama menjabat sebagai Kapolda Bali.

Terbukti, hasil penelitian dari Universitas Udayana menyatakan bahwa Kapolda Bali sudah melakukan kepemimpinan transformasional yang memang sesuai dengan realita selama ini yaitu lebih menonjolkan aspek intellectual stimulation yang dapat dimaknai bahwa kecerdasan dan rasionalitas dalam membuat serta mengambil keputusan dalam mengatasi masalah yang ada telah membawa perubahan yang signifikan dalam kinerja Polda Bali dan memberikan rasa nyaman dan aman kepada masyarakat dan wisatawan di Bali.

Kemudian dalam gaya kepemimpinan transaksional, Kapolda juga telah memberlakukan reward and punishment kepada seluruh personel Polda Bali. Jenderal lulusan Akpol tahun 1988 ini tidak segan-segan memberikan reward kepada bawahannya yang berprestasi. Tidak perlu menunggu lama-lama, anggota yang berprestasi langsung dipindahtugaskan sesuai tempat yang diinginkan. Begitu juga sebaliknya, ketika anggota bawahannya berbuat kesalahan yang fatal, saat itu juga Kapolda memberikan hukuman dan tindakan disiplin. Dengan gaya kepemimpinan transaksional, personel Polda Bali berlomba-lomba meraih prestasi dan menghindari perilaku yang tidak terpuji.(adi).

  • Whatsapp

Index Berita